ROKAN HULU, PASIR PENGARAIAN - Jaksa Nasution, warga Dusun Pawan Hulu, Desa Rambah Tengah Hulu, Kecamatan Rambah, Rokan Hulu (Rohul), Riau, dilaporkan mengalami luka di bagian kepala dan tangan, diduga dibacok mantan suami dari istrinya inisial UD.

Berdasarkan informasi Kepolisian, tindak pidana penganiayaan berat dialami Jaksa Nasution terjadi di dalam rumahnya pada Ahad (22/11/2020) pagi sekira pukul 06.00 WIB.


Ahad pagi, Jaksa Nasution tengah duduk sambil minum teh bersama adik iparnya bernama Yanto di rumahnya di Dusun Pawan Hulu.

Saat sedang asik ngobrol sambil minum teh, sekira pukul 06.00 WIB, tanpa diketahui penyebabnya, tiba-tiba pria inisial UD, warga Desa Tanjung Belit, Kecamatan Rambah, masuk ke dalam rumah dan langsung membacok bagian kepala korban sebanyak dua kali.

Belakangan diketahui, UD merupakan mantan suami dari istri korban Jaksa Nasution. Kabarnya, mendapat informasi keduanya berkunjung ke Pawan, UD datang membawa parang dan langsung menyerang korban.

"Korban dibacok di bagian kepala menggunakan parang oleh pelaku," ungkap Kapolres Rokan Hulu AKBP Taufiq Lukman Nurhidayat, melalui Paur Humas Polres Rokan Hulu Ipda Totok Nurdianto, Senin (23/11/2020).

Melihat itu, Yanto, adik ipar dari korban Jaksa Nasution sekaligus pelapor langsung merebut parang yang dipegang pelaku dan berusaha menariknya, namun senjata tajam tersebut melukai jari tangannya.

Sebelum melarikan diri, kata Ipda Totok, pelaku sempat berkata kepada korban dan orang yang ada di dalam rumah, "akan ku bunuh kalian semua".

Akibat kejadian tersebut, sambung Ipda Totok, Jaksa Nasution menderita luka bacok di bagian kepala dan lengannya, sedangkan pelapor Yanto mengalami luka di bagian jari tangan sebelah kanan.

Pada Ahad sekira pukul 09.00 WIB, kejadian tersebut akhirnya dilaporkan ke Polres Rokan Hulu untuk ditindaklanjuti.

"Korban (Jaksa Nasution) sudah dibawa dan dirawat di RSUD Rokan Hulu untuk dilakukan pengobatan. Sedangkan pelaku UD masih kabur," pungkas Ipda Totok Nurdianto.(dow)

#beritarohul

RIAU, BENGKALIS - Usai menyatakan banding atas putusan vonis Bupati Bengkalis Non aktif Amril Mukminin dua pekan lalu. Hari ini, Selasa (24/11/20). Tim jaksa penuntut umum (JPU) KPK menyerahkan memori ke Pengadilan Tipikor Pekanbaru.

Penyerahan memori banding oleh KPK tersebut dibenarkan oleh Panitera Muda (Panmud) Tipikor PN Pekanbaru, Rosdiana Sitorus SH.


"Pagi tadi jaksa KPK telah menyampaikan memori banding untuk Amril Mukminin kepada kami. Selanjutnya pihaknya juga menunggu kontra memori banding dari Tim Kuasa hukum Amril Mukminin," kata Rosdiana.

Apabila memori banding kedua pihak telah disampaikan papar Rosdiana, selanjutnya akan diserahkan ke Pengadilan Tinggi (PT) Tipikor Pekanbaru."Kami masih menunggu dari kuasa hukum Amril," sambung Rosdiana.

Untuk diketahui, Kendati vonis hukuman Amril Mukminin sama dengan tuntutan jaksa KPK. Namun, majelis hakim yang diketuai Lilin Herlina tidak mengabulkan dakwaan kedua JPU KPK tentang Uang yang diberikan kepada Amril melalui rekening istrinya, Kasmarni, saat menjabat Camat Pinggir.

" Terdakwa tidak terbukti sebagaimana dalam dakwaan kedua," kata Lilin dalam putusan saat itu.

Dengan tidak dikabulkannya dakwaan kedua tersebut, JPU KPK pun menyatakan banding.

Pada Senin (9/11/20) lalu, majelis hakim Pengadilan Tipikor Pekanbaru yang dipimpin Lilin Herlina SH MH menjatuhkan vonis selama 6 tahun penjara kepada Amril Mukminin. Hakim menyatakan Amril terbukti menerima suap proyek multiyears pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning sebesar Rp5,2 miliar.

Amril yang terbukti melanggar pasal 12 huruf a Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak pidana korupsi juga dikenakan hukuman denda sebesar Rp500 juta. Jika denda itu tidak dibayarkan, maka dapat diganti (subsider) dengan pidana kurungan selama 6 bulan.

Selain itu, hakim juga menambahkan hukuman dengan mencabut hak politik yaitu hak untuk tidak dipilih selama 3 tahun. Terhitung sejak terdakwa selesai menjalani pidana penjara.

Vonis hukuman tersebut sama dengan tuntutan jaksa.

Amril menerima uang gratifikasi atau suap terkait sejumlah proyek di Bengkalis. Diantaranya, sekitar Rp2,5 miliar dari PT CGA sebelum menjabat sebagai Bupati Bengkalis. Uang itu disinyalir untuk pelicin anggaran proyek peningkatan jalan Duri-Sei Pakning multiyears tahun 2017-2019.

Selain itu, Amril kemudian kembali menerima dari PT CGA senilai Rp3,1 miliar saat telah menjabat sebagai Bupati Bengkalis. Uang tersebut diberikan sekitar Juni dan Juli 2017. Totalnya, Amril Mukminin diduga telah menerima Rp5,2 miliar.(dow)

#beritabengkalis

PEKANBARU, TAMPAN - Pelaksana tugas Kepala Satpol PP Kota Pekanbaru Buhan Gurning menegaskan pihaknya akan tegas menutup penginapan atau hotel nakal yang kedapatan mengizinkan adanya pasangan tak resmi menginap.

"Sudah kami lakukan proses razia di beberapa wisma dan penginapan. Kami komit dengan itu (berantas maksiat). Ketemu sekali, sudah kita ingatkan. Dan kalau sampai ketiga kali, saya minta dinas terkait langsung close (menutup) saja," ujar Burhan Gurning di Pekanbaru, Sabtu.

Dia mengatakan Pemkot Pekanbaru berkomitmen memberantas praktik prostitusi di Ibu Kota Provinsi Riau ini. Hal ini dibuktikan dengan rutinnya petugas menggelar razia ke sejumlah penginapan.

Burhan Gurning juga mengatakan pihaknya sudah menyampaikan kepada pengelola penginapan agar memanfaatkan gedung sesuai ketentuan yang ditetapkan atau yang diperuntukkan.

"Kemarin sudah saya sampaikan, tolong manfaatkanlah gedung itu sesuai dengan IMB-nya. Untuk apa itu digunakan. Sangat kita sayangkan beberapa wisma kemarin itu membuka hal-hal yang seperti itu. Sangat-sangat kita sayangkan," ujarnya.

Menurutnya, untuk menuju kota madani sesuai visi dan misi Wali Kota Pekanbaru, praktik mesum atau kegiatan ilegal lainnya berangsur akan dibersihkan.

"Dan kami harus siap, masyarakat kami harus siap. Kami minta dukungan seluruh stakeholder, bagaimana kota ini ke depannya. Praktek-praktek prostitusi seperti itu harus kami hindari. Itu akan menghancurkan masa depan anak-anak remaja kami," tegasnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Satpol PP Kota Pekanbaru menggelar razia di sejumlah penginapan, dan mendapati beberapa pasangan tak resmi sedang berduaan di kamar. Mereka yang terjaring razia didata dan kemudian diingatkan untuk tidak melakukan perbuatan tercela itu lagi.(dow)

#beritapekanbaru

RIAU, PELALAWAN - Kepolisian Daerah Riau berhasil gagalkan penyelundupan narkoba sebanyak 20 Kilogram di Riau. Pihaknya berhasil tangkap 3 orang pelaku, satu diantaranya meninggal dunia. Belakangan diketahui salah satu tersangka bernama Simon Siahaan merupakan tim sukses Calon Bupati Pelalawan nomor urut 4 Adi Sukemi. Hal ini diketahui saat petugas melakukan penggeledahan di kontrakan pelaku yang berada di Pelalawan. Dalam kontrakan itu, petugas menemukan ratusan paket sembako dan atribut partai Golongan Karya (Golkar).


Pada sembako dan atribut partai itu (goodie bag) terdapat tulisan "Bersama Golkar Peduli". Bahkan tampak pula gambar paslon Bupati Pelalawan, Adi Sukemi-Rais.

"Kita peroleh di rumah kosnya di Pelalawan, yang bersangkutan adalah tim survei (timses) dari salah satu paslon. Yang mana tugasnya melakukan survei di wilayah Pelalawan. Saat ini sedang dilakukan pendalaman," terang Kapolda Riau, Irjen Agung Setya Imam Effendi, Selasa (10/11/20).

Adi Sukemi sendiri merupakan anak Bupati Pelalawan saat ini, M Harris. Dia maju bersama Muhammad Rais yang menjadi calon Wakil Bupati. Tak hanya itu, Simon diketahui juga merupakan tim sukses Bupati Pelalawan saat ini M Harris. Sementara, dalam aksi penyelundupan 20 kilogram sabu itu, Simon diupah hingga Rp40 juta hanya untuk membawa barang haram itu dari wilayah Bengkalis ke Pekanbaru.

"SS itu sudah mendapatkan bayaran Rp 40 juta untuk memindahkan barang bukti 20 Kg sabu-sabu dari Bengkalis menuju ke Pekanbaru," tuturnya.

Sementara, Agung menjelaskan pihaknya setakat ini tengah mendalami terkait aliran dana tersebut. Apakah berkaitan dengan dia yang sebagai timses Paslon Bupati Pelalawan itu.

"Kita akan dalami dalam proses penyelidikan," imbuhnya.

Untuk diketahui, SS tertangkap terlibat jaringan narkoba bersama dua pelaku lainnya. Dimana satu diantaranya bernama Hendra meninggal dunia lantaran melawan saat hendak diamankan.

Simson sendiri berperan sebagai pengawal penyelundupan narkoba itu. Untuk melancarkan aksinya, Ia mengaku sebagai polisi. "Ia kita tangkap di sebuah kamar kontrakan di Kabupaten Pelalawan," terang Agung. Simson tertangkap juga lantaran informasi dari Syamsul yang sebelumnya diamankan bersama barang bukti 20 kilogram sabu yang dibawanya bersama Hendra.

Sedangkan pengendali jaringan ini diketahui merupakan salah satu warga binaan lapas Pekanbaru berinisial SE alias Pak Cik Itan. Dia dikabarkan meninggal dunia beberapa jam sebelum jaringan itu terbongkar. Napi kasus narkoba dengan massa hukuman 4 tahun penjara itu meninggal dunia lantaran penyakit yang dideritanya. Ia juga sempat muntah darah sebelum dikabarkan meninggal dunia.

Dari jaringan ini, petugas berhasil menyita beberapa barang bukti diantaranya yakni 20 bungkus besar sabu yang dikemas dengan kemasan minuman Millo, satu unit mobil Avanza warna hitam BM 1103 VV, satu unit Toyota Yaris BK 1375 WA, tiga unit hp Nokia warna hitam, dua unit hp android jenis Samsung dan merk Nuqiq buatan Malaysia, satu unit dompet warna hitam, satu unit ATM BTN, satu ATM Mandiri.

Sementara dua pelaku yang tertangkap hidup-hidup kini dijerat dengan 114 Ayat (2) Jo Pasal 112 ayat (2) UU RI NO 35 Tahun 2009 tentang narkotika, dengan Ancaman Hukuman mati atau penjara paling singkat 5 tahun, paling lama 20 tahun.(dow)

#beritapelalawan

INDRAGIRI HULU, RENGAT - Dua orang pegawai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hulu (Inhu), menjadi korban Kecelakaan Lalulintas (Lakalantas) tabrakan beruntun yang terjadi di jalan Lintas Pematang Reba - Rengat.

Tabrakan beruntun yang terjadi ditengah guyuran hujan tersebut, melibatkan satu unit mobil box dan dua unit sepeda motor, hingga mengakibatkan dua orang pegawai Pemkab Inhu menjadi korban jiwa. Dua orang pegawai Pemkab Inhu yang menjadi korban jiwa tersebut terdiri dari Mardiana (38) pegawai honorer Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu, serta Refli Martyo Dyanti (43) ASN Dinas PU dan Penataan Ruang, Inhu.

"Atas nama Pemkab Inhu, kami turut berduka atas musibah yang terjadi ini. Semoga kedua korban mendapat tempat yang layak disisnya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini," ujar Hendrizal Sekdakab Inhu saat membesuk korban di RSUD Indrasari Pematang Reba, Selasa (10/11/20).

Sebagaimana diketahui, tabrakan beruntun ini terjadi di jalan Lintas Pematang Reba-Rengat tepat nya didepan cucian mobil MH Pematang Reba, dimana ditengah guyuran hujan lebat mobil box bewarna putih BM 9639 TX yang dikemudikan Ari Perdana Zebua (25) melaju kencang dari arah Rengat menuju Pematang Reba.

Diduga kehilangan kendali, akibat kencangnya laju mobil yang dikendarainya hingga berakibat oleng dan menabrak sepedamotor honda vario putih BM 6144 VV yang dikendarai Mardiana berboncengan dengan anaknya yang bernama Raisya Azlia (12) yang datang dari arah berlawanan.

Sesaat sebelum terbalik, mobil box yang telah menabrak satu sepeda motor tersebut kembali menabrak satu unit sepeda motor yamaha nmax merah BM 4174 BD yang dikendarai Refli Martyo Dyanti (43) ASN Dinas PU dan Penataan Ruang, Inhu yang juga datang dari arah berlawanan.

Akibat Lakalantas tersebut, korban Mardiana dan Refli Mrtyo Dyanti yang mengalami luka-luka yang cukup serius akhirnya meninggal dunia. Sementara anak Mardiana yang diboncengnya yang bernama Raisya Azlia, kondisinya kritis.(dow)

#beritainhu

RIAU, DUMAI - PT Pelabuhan Indonesia I Cabang Dumai resmi membuka pelayanan aktivitas bongkar muat peti kemas internasional dengan momen perdana sandar Kapal KM Logistik Nusantara 5 milik PT Pelni pada Sabtu (7/11) kemarin.

Pantauan, KM Logistik Nusantara 5 ini berhasil sandar dengan sukses di pelabuhan Dumai dari Port Klang Malaysia bermuatan 50 TEUs Container MT.

General Manager Pelindo 1 Dumai Jonedi menyebut bahwa kedatangan kapal petikemas internasional perdana ini tidak terlepas dari kerjasama dan dukungan para pihak dan stakeholder terkait, dan patut disyukuri bersama.


Pelindo I merupakan BUMN kepelabuhanan berperan sebagai gerbang logistik dan mendukung kegiatan perdagangan, sehingga selalu berupaya berbenah dan membuat langkah terobosan untuk meningkatkan pelayanan kegiatan logistik dan perdagangan, baik domestik maupun internasional.

"Setelah resmi dibuka pelayanan petikemas internasional ini diharap dapat terus meningkat sejalan dengan peningkatan perdagangan ekspor impor ke sejumlah negara tetangga," kata Jonedi, Minggu.

Ke depannya, diharap juga jalur pelayaran ditambahkan tujuan Pelabuhan Pasir Pelepas, Johor Malaysia, dan pelayanan sudah dibuka ini sebagai terobosan awal untuk membuka jalur perdagangan internasional ke berbagai pelabuhan di belahan dunia.

"Kami sebagai BUMN bergerak di jasa kepelabuhanan siap untuk memfasilitasi kegiatan ekspor impor menuju negara tetangga, demi peningkatan ekonomi dan bisnis di Dumai seperti harapan masyarakat dan pemerintah," sebut Jonedi.

Diberitakan, Pelindo I Dumai mencatat trafik kunjungan kapal sebanyak 1.796 call atau 15.753.386 GT (Gross Tonnage) selama semester I 2020.

Pendapatan usaha Pelabuhan Dumai sampai dengan semester I tahun ini sebesar Rp 271,74 miliar, dengan salah satu bisnis unggulan di Pelabuhan Dumai yakni marine services baik di pelabuhan umum maupun di tersus/TUKS seperti, Kawasan Industri Dumai (KID), Lubuk Gaung dan Pertamina.

Kawasan Industri Lubuk Gaung menjadi potensial yang akan terus diupayakan untuk memperluas pasar marine services dengan gencar melakukan kerjasama serta pendekatan ke agen dan pemilik TUKS, kemudian layanan unggulan bongkar muat curah kering dan curah cair.

Untuk layanan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Dumai mengalami peningkatan signifikan, hingga Semester I Tahun 2020 melayani bongkar muat peti kemas sebanyak 6.675 box, naik 72,89 persen dibanding periode sama Tahun 2019 sebesar 3.861 box.(dow)

#beritadumai


KEP MERANTI, SELAT PANJANG - Mengenai isu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan sertifikasi Hak Atas Tanah di Pulau Rangsang sebagai salah satu pulau-pulau kecil terluar (PPKT), Pemkab Kepulauan Meranti mengaku baru mengetahuinya dan segera melakukan konsolidasi.

"Saya belum dapat informasi soal itu, nanti hari Senin kita coba koordinasikan dulu sama dinas terkait. Kalau informasi itu benar adanya, nanti kita telusuri," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kepulauan Meranti Dr Kamsol, baru-baru ini.

Ia mengakui sudah ada koordinasi dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Pekanbaru Wilayah Kerja Selatpanjang dengan pihaknya, terkait pembukaan kantor bantu untuk beroperasi di garis depan Pulau Rangsang.

Bahkan pihak Imigrasi juga sudah membicarakan soal akan membuka pintu keluar masuk internasional disana.

"Yang jelas sudah konfirmasi ke saya itu KKP. Mereka minta dukungan membuka kantor disana. Kalau sudah ada pintu masuk internasional, tentu KKP sudah ada disana dan itu nanti kita coba koordinasikan dengan aparat setempat," terang Sekda.

Menindaklanjuti hal itu, Sekda akan melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan Forkopimda membahas mengenai sertifikat hak atas tanah di Pulau Rangsang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Ke depan kita akan menguat konsolidasi dan koordinasi Forkopimda. Itu nanti akan kita agendakan rapat untuk sekaligus dibahas," ujarnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, guna mengantisipasi beberapa isu sensitif, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan sertifikasi hak atas tanah di Pulau Rangsang sebagai salah satu pulau-pulau kecil terluar (PPKT).

Plt Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP TB. Haeru Rahayu dalam keterangannya menegaskan sertifikasi hak atas tanah seluas 8.924 meter persegi atau 0,89 hektare itu bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan PPKT sebagai kawasan strategis nasional tertentu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2010.

"PPKT punya peran strategis karena memiliki titik dasar koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum internasional serta peran strategis dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ujarnya.

Ia menjelaskan sertifikasi hak atas tanah di PPKT dilatarbelakangi beberapa isu-isu sensitif di pulau kecil, seperti penjualan pulau-pulau kecil, penguasaan pulau kecil oleh WNA sebagai pulau privat, kerusakan lingkungan di PPKT, konflik pemanfaatan ruang dan sumber daya di PPKT serta aktivitas ilegal seperti pencurian ikan, pembalakan liar, serta penyelundupan orang dan barang.

Pulau Rangsang yang terletak di Selat Malaka dan berbatasan langsung dengan Malaysia ini memiliki luas 867,86 km persegi dengan kondisi pulau terdiri dari hutan belukar, perkampungan, ladang perkebunan dan tanah terbuka.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 8.78/MenHut-II/2014 kawasan hutan di Pulau Rangsang adalah Kawasan Hutan Produktif tetap.(dow)

#beritameranti

SIAK, MEMPURA - Istana Assereyah Al Hasyimiah atau yang dikenal dengan Istana Siak yang di dalamnya juga dijadikan museum hingga saat ini belum dibuka untuk wisatawan yang ingin melihat koleksi kesultanan setempat akibat COVID-19 yang masih mewabah.

Pantauan ANTARA, Sabtu, meskipun belum dibuka tapi masih banyak saja wisatawan yang datang ke tempat tersebut. Jadinya pengunjung hanya bisa berfoto di depan pagar istana tersebut karena pintu masuk yang masih terkunci.

Istana Siak awalnya ditutup sejak Maret lalu terhitung adanya kasus terkonfirmasi COVID-19 di Kabupaten Siak. Namun begitu rumah Sultan Syarif Kasim II itu sempat dibuka usai lebaran Juni lalu dengan menerapkan pola era normal baru.

Akan tetapi Istana ditutup kembali karena adanya eskalasi COVID-19 di Kabupaten Siak. Hingga saat ini sudah lebih dari 1.000 kasus positif di daerah tersebut meskipun sekitar 80 persen diantaranya sudah sembuh.

Wisatawan untungnya masih bisa menikmati jalan-jalan di Siak di depan istana. Itu dengan menikmati wisata Tepian Bandar Sungai Jantan yang merupakan "Water front City" Kabupaten Siak.

Turap tersebut berada di tepi Sungai Siak dari posisi depan Istana hingga Klenteng Hock Siu Kiong yang juga ramai dikunjungi warga. Namun klenteng itu juga ditutup dan hanya bisa berswafoto di depannya.

Sejumlah tempat wisata lainnya di Kabupaten Siak yang ada akses masuk hingga saat ini juga masih tutup. Seperti Tangsi Belanda di Benteng, Kecamatan Mempura.

Bahkan juga wisata alam persawahan di Kecamatan Bungaraya yakni Agrowisata Sakabura. Meskipun bisa memandangi sawah dari sisi-sisi jalan tapi untuk masuk ke rumah Sakabura yang berupa rumah tangga masih dikunci.

Begitu juga Wisata Mangrove di Kayu Ara Permai, Kecamatan Sungai Apit di mana jalan menyusuri Mangrovenya ditutup. Meski begitu tempat dengan akses terbuka seperti Ruang Terbuka Hijau Taman Syarifah Sembilan yang baru diresmikan tetap ramai dikunjungi.(dow)

#beritasiak


ROKAN HULU, PASIRPANGARAIAN - Persoalan kasus dugaan korupsi yang melibatkan Ketua Yayasan Pembangunan Rokan Hulu (YPRH) Universitas Pasir Pengaraian (UPP) Hafith Syukri memasuki babak baru.

Pembina Yayasan sementara waktu memberhentikan ketua Yayasan yang juga maju di Pilkada Kabupaten Rokan Hulu tersebut.

Pembina Yayasan Pembangunan Rokan Hulu Chaidir mengatakan, pembina yayasan sepakat untuk memberikan cuti sementara waktu selama tiga bulan. Kepada Hafith Syukri yang sedang menjalani proses hukum dugaan korupsi di Kejaksaan.


"Kami pembina Yayasan sepakat cutikan selama tiga bulan (Hafith Syukri) dan posisi ketua yayasan saat ini dipegang Prof Irwan Efendy,"ujar Chaidir kepada Wartawan Senin (2/11/2020).

Menurut Chaidir yang juga mantan Ketua DPRD Riau itu, ini bertujuan agar permasalahan yang muncul di Yayasan kampus Universitas Pasir Pengaraian itu bisa diurai dengan cepat dan bisa tuntas.

"Itu cara kita mengurai permasalahannya, jangan sampai nanti seperti mengurai sarang burung tempua, namun cukup dengan cara menarik benang di tepung,"ujar Chaidir.

Hafith Syukri dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi Riau oleh Aliansi Alumni dan Mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian (UPP).

Kasus yang dilaporkan terkait dugaan uang Yayasan Pembangunan Rokan Hulu (YPRH) yang digunakan untuk kepentingan pribadi oknum yayasan tersebut.

Hafith Syukri merupakan ketua Yayasan Pembangunan Rokan Hulu itu, dia bersama Bendahara Yayasan Afrizal Anwar dilaporkan Rabu (21/10/2020) lalu oleh mahasiswa tersebut.

"Disaat kondisi Covid-19 melanda negeri ini, semua pihak bahu-membahu mencari bantuan bagi mahasiswa yang tidak mampu membayar SPP,”ujar Koordinator Alumni dan Mahasiswa yang melapor ke Kejati Riau Irwansyah.

“Mirisnya, SPP mahasiswa yang semestinya digunakan untuk operasional dan gaji dosen/karyawan, justru disalahgunakan oknum yayasan untuk kepentingan pribadi,"imbuhnya.

Lanjut Irwan, semestinya pihak yayasan membantu mencari anggaran tambahan untuk keperluan kampus, bukan mengeruk uang yayasan untuk kepentingan pribadi.

"Kami minta diusut tuntas penggunaan dana yang tidak sesuai tersebut, karena ini sangat menyedihkan bagi masyarakat Rohul,"ujar Irwansyah.

Tanggapan Hafith Syukri

Menanggapi laporan terhadap dirinya itu, Hafith Syukri tidak mau ambil pusing, ia menyerahkan sepenuhnya kepada penegak hukum.

"Biasalah, semoga ada hikmah kebaikan di balik semua ini,"ujar Hafith Syukri singkat.

Dia juga menegaskan, terkait masalah cuti sementara tersebut adalah keinginan dirinya sendiri dengan alasan sedang menghadapi Pilkada Serentak di Rokan Hulu.(dow)

#beritarohul

INDRAGIRI HULU, RENGAT - Aparat Kepolisiam Polres Indragiri Hulu (Inhu) menggerebek tempat persembunyian gembong narkoba di Desa Perkebunan Sungai Lala, Kecamatan Sungai Lala, Inhu pada Jumat (30/11/2020) lalu sekira pukul 04.00 WIB.

Penggerebekan tersebut dipimpin oleh Wakapolres Inhu, Zulfa Renaldo.

Saat penggerebekan itu, polisi mengamankan lima orang tersangka dan barang bukti berupa puluhan gram narkoba jenis sabu-sabu serta uang tunai belasan juta rupiah diduga hasil penjualan narkoba.

Kapolres Inhu, AKBP Efrizal melalui Ps Paur Humas Polres Inhu, Aipda Misran mengungkapkan inisial kelima tersangka, yakni SRT alias Brewok (34), ATN (42), AND (25), FKY (25) dan DNL (34). Misran mengungkapkan bahwa kelimanya merupakan sindikat pengedar narkoba di Kecamatan Sungai Lala.


Pengungkapan sindikat tersebut, berkat informasi masyarakat yang diterima personil Satres Narkoba Polres Inhu sehari sebelum penggerebekan.

Hasil penyelidikan yang dilakukan mengungkap identitas para pelaku dan lokasi persembunyian mereka.

"Sekitar pukul 04.00 WIB dilakukan penggerebekan sebuah rumah. Lima orang tersangka yang mengetahui kedatangan tim mengunci semua pintu serta jendela menggunakan palang kayu," kata Misran.

Sehingga saat digerebek, petugas Kepolisian harus mendobrak pintu untuk bisa masuk ke rumah.

Setelah berhasil masuk, kelima tersangka diketahui bersembunyi di balik pintu, dalam kamar bahkan ada tersangka yang bersembunyi di balik gorden.

Polisi menggeledah isi rumah tersebut dan menemukan lima paket sabu-sabu dengan berat kotor 23,1 gram, uang tunai yang diduga hasil penjualan narkoba sebanyak Rp.11.200.000, dua unit timbangan elektrik, 1 unit mobil HR-V warna putih dengan plat Nopol BM 1191 TA, 3 pucuk senjata airsoft gun, sebilah sangkur, lima bilah samurai dan sejumlah smartphone milik para tersangka.

"Semua tersangka dan BB sudah diamankan di Polres Inhu untuk penyidikan lebih lanjut, kasus ini terus dikembangkan karena ada keterlibatan salah RDT asal Bangkinang yang telah masuk DPO," pungkasnya. (dow)

#beritainhu

Powered by Blogger.