BERITA RIAU, PEKANBARU - Malioboro merupakan ikon Kota Yogyakarya. Tak pernah sepi dari pengunjung dan sangat terkenal di seantero negeri karena di jalan ini semua nyaris ada, mulai dari pakaian, makanan, cinderamata dan lain sebagainya.

http://www.riaucitizen.com/search/label/Berita%20Pekanbaru
Ketika malam tiba, di kawasan itu juga tercipta hubungan yang harmoni antara pemilik ruko yang memberikan kesempatan kepada pedagang lesehan atau pedagang kaki lima (PKL) untuk membentang tikar guna mengais rezeki.

Malioboro sendiri merupakan bagian dari sumbu mistik di antara Keraton dan Tugu. Konon, arti Malioboro dalam bahasa Sansekerta adalah karangan bunga. Hal ini disebabkan Malioboro dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Keraton melaksanakan perayaan.

Kawasan Malioboro merupakan daerah yang bersifat heterogen, baik secara fisik maupun sosial. Malioboro dalam perkembangannya dikenal sebagai daerah perdagangan yang unik, sehingga menarik perhatian pariwisata internasional dan domestik.

Selain, dikenal sebagai lokasi perbelanjaan dan jajanan tradisional, Malioboro juga terkenal dengan wisata sejarahnya.

Suasana Malioboro inilah yang kemudian menginspirasi Walikota Pekanbaru H Firdaus ST MT, untuk mengubah wajah Pasar Agus Salim yang sejak dulu dikenal "angker" karena tak pernah bisa ditertibkan dari aktivitias pedagang meskipun diketahui lapak milik pedagang sudah memenuhi badan jalan.

Pasar Agus Salim sendiri sebenarnya bukanlah pasar. Sebutan itu muncul begitu saja karena sejak lama selalu padat oleh pedagang yang datang dari berbagai sudut kota. Agus Salim sesungguhnya adalah nama salah satu jalan di kawasan Pasar Pusat di Kecamatan Pekanbaru Kota.

Sejak puluhan tahun silam, jalan itu seperti gang buntu yang tak bisa dilewati kendaraan jenis apapun, karena tertutup padatnya lapak pedagang yang berjualan sejak pagi hingga petang hari.

Pemerintah Kota Pekanbaru sendiri sejak puluhan tahun lalu bukan tak pernah mencoba menertibkan. Namun entah bagaimana, pedagang yang kemudian pergi, selalu kembali dan kembali lagi.

Cerita sukses itu baru mampu diraih ketika pucuk kepemimpinan Pemko Pekanbaru dipimpin H Firdaus ST MT bersama Ayat Cahyadi. Mimpi Firdaus untuk mengubah wajah Agus Salim seperti Malioboro di Jogya-pun, disambut suka cita oleh pedagang dan tokoh masyarakat setempat, tanpa ada riak apalagi bentrok fisik antara Satpol PP dan pedagang. 

Sosialisasi rencana perbaikan Jalan Agus Salim dan relokasi lapak pedagang di kawasan tersebut sudah dilakukan sejak setahun lalu. Karena Jalan Agus Salim tersebut akan dijadikan kawasan pasar wisata dan kuliner Pekanbaru.

"Jalan dan parit di kawasan tersebut sedang dalam perbaikan. dan dalam waktu dekat ini kenyamanannya dapat kita rasakan bersama," kata walikota.

Pedagang yang selama ini menempati badan Jalan Agus Salim, akan direlokasi kembali ke dalam Pasar Senapelan. Karena masih banyak tempat di dalam pasar itu lantaran sebelumnya ditinggalkan pedagang yang memilih berjualan di pinggiran hingga menutupi seluruh badan Jalan Agus Salim.

"Masih banyak lapak yang kosong di pasar itu (Senapelan). Untuk itu kita minta para pedagang memaksimalkan tempatnya dan tidak berjualan di badan jalan lagi," himbaunya.

Walikota berjanji, jika perbaikan jalan itu sudah selesai, para pedagang tetap yang sudah lama berjualan akan diprioritaskan mendapat tempat berjualan di Malioboro Pekanbaru tersebut. Lapak-lapak akan didesaint secara permanen.

Ia berharap di kawasan itu nantinya akan tercipta pasar wisata kuliner seperti di Malioboro Yogyakarta yang menjadi pasar wisata yang bersih dan nyaman. Kawasan itu akan ditata dengan baik.

Kemudian Pasar Inpres yang ada di sekitar kawasan itu juga akan direvitalisasi. Ruko di sisi kiri dan kanan Pasar Inpres akan dibeli. Tahun 2013 lalu sudah ada beberapa lahan yang dibayar. Tahun ini akan dibayar lagi dengan luas lahan sekitar 6.000 meter persegi. Di lokasi itu akan dibangun pasar tradisional modern. 

Kawasan City Walk

Pemerintah Kota Pekanbaru telah merancang sejumlah titik kota menjadi kawasan City Walk. Langkah pertama yang akan dilakukan dengan membuat pedestrian serta fasilitas bagi pejalan kaki, yang dimulai dari rumah dinas Walikota Pekanbaru.

"Kita mulai secara simultan yang diawali dari rumah dinas Walikota Pekanbaru hingga Pasar Agus Salim. Untuk itu, di minta kepada Dinas Pasar, Ketua RT/RW, lurah dan camat bersama pedagang berkoordinasi. Khususnya untuk merapikan kawasan tersebut," pinta walikota.

Tahap awal, Pemko Pekanbaru telah membangun trotoar pedestrian dari rumah dinas walikota, sampai di depan Gereja Santa Maria, Jalan Ahmad Yani. Pedestrian juga akan dibuat di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto ke Jalan Sudirman, lalu Jalan Agus Salim-Kopi-Imam Bonjol.

Pedagang di sepanjang Jalan Teratai dan Seroja pun akan ditertibkan. Apalagi di sepanjang jalan itu banyak pemilik toko yang mengeluarkan meja display-nya sampai di pinggir jalan.

"Mereka (pemilik toko) diperbolehkan berjualan, tapi barang dagangannya jangan dipajang sampai ke luar toko. Karena bisa mengganggu jalur bagi pejalan kaki," ungkapnya.

Dengan pembangunan pedestrian itu, kawasan kota lama akan menjadi tempat yang lebih bersih, sehat dan aman, baik siang maupun malam hari. Alhasil, kawasan-kawasan itu akan menjadi pusat keramaian dan kunjungan masyarakat.(pku03)

Malioboro merupakan ikon Kota Yogyakarya. Tak pernah sepi dari pengunjung dan sangat terkenal di seantero negeri karena di jalan ini semua nyaris ada, mulai dari pakaian, makanan, cinderamata dan lain sebagainya. Ketika malam tiba, di kawasan itu juga tercipta hubungan yang harmoni antara pemilik ruko yang memberikan kesempatan kepada pedagang lesehan atau pedagang kaki lima (PKL) untuk membentang tikar guna mengais rezeki. Malioboro sendiri merupakan bagian dari sumbu mistik di antara Keraton dan Tugu. Konon, arti Malioboro dalam bahasa Sansekerta adalah karangan bunga. Hal ini disebabkan Malioboro dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Keraton melaksanakan perayaan.

Post a Comment

Powered by Blogger.